Larangan Haji Laki-laki dan Perempuan Serta Denda Nya

Larangan Haji – Haji merupakan kegiatan ziarah ke tempat-tempat tertentu di Mekkah yang dilaksanakan oleh umat islam. Saat melaksanakan haji tentu ada beberapa larangan haji yang tidak boleh dilanggar.

Lalu apa saja larangan haji?

Larangan haji adalah mengenakan pakaian berjahit, menutup kepala bagi laki-laki, menutup wajah bagi perempuan, mengurai dan mencukur rambut, memotong kuku, mengenakan wewangian, membunuh hewan, melangsungkan akad nikah, serta berhubungan badan.

Untuk mengetahui informasi lebih jelas tentang larangan haji bagi perempuan dan laki – laki, Anda bisa membaca penjelasan di bawah ini.

Daftar Isi:

Larangan Haji untuk Laki – Laki

Ada beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan oleh jama’ah haji khusus laki – laki, antara lain:

  • Dilarang memakai pakaian berjahit.
  • Dilarang memakai tutup kepala.
  • Dilarang memakai sepatu yang menutupi mata kaki.

‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata bahwa ada seseorang yang bertanya pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana pakaian yang harus dikenakan oleh orang yang sedang haji?”

Kemudian Rasullullah bersabda:

“Tidak boleh mengenakan kemeja, sorban, celana panjang, kopiah, dan sepatu, kecuali bagi yang tidak mendapatkan sandal, maka dia boleh mengenakan sepatu. Hendaknya dia  potong sepatunya tersebut hingga di bawah kedua mata kakinya. Hendaknya dia tidak memakai pakaian yang diberi za’faran dan wars (sejenis wewangian”. (HR. Bukhari no. 1542).

Larangan Haji untuk Perempuan

Sedangkan untuk perempuan, ada beberapa larangan haji yang tidak boleh dilakukan oleh jama’ah haji perempuan, antara lain:

  • Tidak boleh menutup wajah (cadar atau masker). Dikecualikan dalam kondisi darurat seperti wabah dan penyakit.
  • Tidak boleh menutup tangan.

Hal tersebut sesuai dengan hadis Imam Bukhari yang berbunyi

وَلاَ تَنْتَقِبِ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ

Artinya: “Hendaknya wanita yang sedang berihram tidak mengenakan cadar dan sarung tangan” (HR. Bukhari no. 1838)

Larangan Haji untuk Laki – Laki dan Perempuan

Selain itu, ada juga beberapa larangan haji yang tidak boleh dilakukan baik untuk laki – laki ataupun perempuan, antara lain:

  • Dilarang Memotong dan mencabut kuku.
  • Dilarang Memotong dan mencukur rambut kepala.
  • Dilarang Mencabut bulu badan, bulu hidung, dan sebagainya.
  • Dilarang Menyisir rambut kepala (dikhawatirkan rambut akan rontok).
  • Dilarang Memakai wangi-wangian.
  • Dilarang Membunuh binatang darat dengan cara apapun.
  • Dilarang Bercumbu atau melakukan hubungan badan.
  • Dilarang Melangsungkan akad nikah atau melamar seseorang.

Meski demikian, ada beberapa pandangan dari Ulama’ yang menyatakan bahwa beberapa larangan tersebut hukumnya makruh.

Seperti pernyataan Syekh Nawawi Banten yang memberi kelonggaran atas larangan potong kuku. Apabila pada saat melakukan haji yang sedang ikhram kuku tersebut terbelah dan menyebabkan sakit (terganggu), maka diperbolehkan untuk dipotong dan tidak perlu membayar fidyah.

Sama halnya dengan munculnya rambut ataupun bulu mata yang menyabkan terganggu, maka boleh dipotong.

Meskipun ada pengecualian atas larangan haji tersebut, secara umum pelanggaran yang dilakukan mengharuskan jama’ah mendapatkan sanksi yang harus dibayar.

Golongan Jamaah Haji yang Harus Membayar Denda

Dam haji dalam islam merupakan denda atau tebusan yang harus dibayar oleh jama’ah haji karena beberapa alasan tertentu. Alasan tersebut antara lain:

  • Jamaah yang tidak melaksanakan ketentuan haji yang telah diperintahkam
  • Jamaah yang melakukan hal – hal yang dilarang dalam ihram
  • Jamaah yang terhalang menuju ke Mekah karena sakit keras ataupun alasan-alasan tertentu sehingga tidak bisa melanjutkan rangkaian ibadah haji.

Denda atau dam haji tersebut tidak selalu berupa menyembelih hewan. Dam bisa juga berupa berupa membayar fidyah dalam bentuk memberi makan fakir miskin, bersedekah, ataupun berpuasa.

Denda atau Dam bagi Pelanggar Larangan Haji

Apabila jama’ah melakukan sesutu yang dilarang dalam ketentuan haji selama masa ihram, maka jama’ah tersebut dikenakan sanksi atau denda. Sanksi yang harus dibayar tersebut berbeda-beda di setiap pelanggarannya.

Berikut ini cara membayar Dam Haji sesuai dengan jenis pelanggarannya:

Denda untuk Jama’ah Haji yang Melanggar Larangan Ihram

Apabila jama’ah haji melanggar larangan ihram semasa menunaikan ibadah haji, maka akan dikenakan Dam atau denda. Yang termasuk dalam larangan ihram disini antara lain:

  • Memakai pakaian yang dijahit (laki – laki)
  • Memakai penutup kepala (laki – laki)
  • Menutup wajah (perempuan)
  • Memakai sarung tangan (perempuan)
  • Memakai wewangian
  • Mencukur rambut dan bulu badan
  • Memotong atau mencabut kuku

Untuk pembayaran denda karena melakukan pelanggaran hal di atas, jama’ah bisa memilih dam yang harus dibayar antara lain:

  • Menyembelih seekor kambing
  • Membayar fidyah berupa sedekah kepada fakir miskin. Fidyah tersebut berupa 1 setengah kg makanan pokok jenis apapun
  • Berpuasa selama 3 hari.

Denda untuk Jama’ah Haji yang Membunuh dan Memburu Binatang Darat

Sesuai dengan Firman Allah SWT dalam Q.S Al-Maaidah : 95 dijelaskan bahwa:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuh..” (Q.S. Al-Maaidah : 95)

Dalam ayat tersebut sudah dijelaskan bahwa denda bagi jama’ah haji yang membunuh hewan saat ihram adalah dengan mengganti binatang ternak yang seimbang dengan hewan yang dibunuh.

Namun jika jama’ah haji tersebut benar-benar tidak mampu membayar sesuai dengan ayat di atas, maka pembayaran denda bisa diganti dengan salah satu dibawah ini, antara lain:

  • Pembagian makanan pada fakir miskin di Mekkah sebanding dengan harga hewan yang dibunuh.
  • Berpuasa dengan jumlah hari yang sama dengan mud binatang yang diburu. 1 mud senilai dengan 675 gram = 1 hari puasa.

Denda untuk Jama’ah Haji yang Melakukan Hubungan Suami Istri (Berjima’) Saat Ihram

Pelanggaran terberat dalam larangan haji yaitu melakukan hubungan seksual yang dapat menyebabkan rusaknya ibadah haji jama’ah tersebut. Meski begitu, jama’ah tetap diwajibkan menyelesaikan rangkaian ibadah hajinya hingga selesai dan harus mengqadha’ pada tahun berikutnya.

Namun apabila pelanggaran ini dilakukan setelah tahallul awal, maka ibadah haji tersebut tidak batal, namun tetap membayar denda atau Damnya

Apabila pelanggaran dilakukan sebelum tahallul awal, maka ibadah haji tersebut tidak sah. Maka denda yang harus dibayar untuk pelanggaran ini antara lain:

  • Menyembelih satu ekor unta.
  • Jika tidak mampu, maka bisa diganti dengan satu ekor sapi.
  • Jika masih belum mampu, bisa diganti dengan 7 ekor kambing.
  • Jika masih belum mampu, bisa diganti dengan memberi makan fakir miskin di Mekkah senilai dengan harga seekor unta.
  • Jika masih belum mampu, terakhir jama’ah tersebut bisa melakukan puasa dengan jumlah hari sesuai dengan hitungan mud seekor unta.

Leave a Comment